Kamu anak korban dari kelakuan si "Pelakor" What should you do ?

“Pelakor” (Perebut laki orang) sepertinya kalimat ini tak asing lagi dikalangan masyarakat. Tak pelik banyak orang yang membicarakan ini dimana- mana. Tapi satu hal yang harus kalian tau ada anak- anak yang menjadi korban dari kelakuan si "Pelakor" yang harus menderita, tertatih membenahi hati pedihnya akibat luka yang dibuat oleh orangtuanya dan seorang “Pelakor”. korban si “Pelakor”, sedih, emosi , marah, rasanya ingin teriak dan tari- tarik tuh rambutnya sih “Pelakor” itu manusiawi, wajar kok, berarti kamu masih bernyawa dan punya hati nurani. Kamu nangis teriak-teriak, emosi, dan melabrak itu "Pelakor" sampe biru- biru, kamu akan merasa puas , iya sangat puas bukan?. Tapi apa dengan begitu bisa menyelesaikan masalah ?, tidak dear yang ada itulah senjatanya si “Pelakor” menarik perhatian Ayahmu lebih dalam lagi. Dan membuat ayahmu membenci keluarganya. 

Kenapa saya bisa bicara demikian, ini bukan sekedar teori, tapi inilah kenyataanya bahwa saya juga salah satu dari jutaan anak diluar sana , korban dari si “Pelakor” . sebenarnya ini aib yang tak mestinya di umbar. tapi mungkin bisa jadi refrensi buat anak- anak diluar sana bagaimana menyikapi jahatnya si "Pelakor" ini. Apakah saya sedih, nagis, tentu iya. Tapi ada satu hal yang saya sembunyikan dari ibu. Cuma bisa terdiam mendengar semua kenyataan yang ada. Sebenarnya saya begitu menderita atas hal ini, sampai sakit, tak nafsu makan, tak bisa tidur, depresi, sangat kepikiran hingga tuk melakukan tugas- tugas sampai berminggu- minggupun tak bisa diselesaikan. Tapi itu tak aku tunjukan di depan sang ibu saya, karna itu akan membuatnya kan lebih sedih. Rumah yang sudah suram jangan dibuat jadi tambah suram, karna kan ada orang yang bertepuk tangan di luar sana atas kehacuran keluargamu. saya mencoba sok kuat dan menghibur sang ibu.

Setiap anak tidak bisa meminta pada Tuhanya dilahirkan pada keluarga yang mana. Tapi kita harus bisa menjadi bagian keluarga yang ikut serta membangun suatu hal yang namanya kebahagian. Terus apa yang saya lakukan ketika pertama kali tahu adanya si Pelakor yang menjadi benalu dalam keluarga saya dan hampir membuat hancur beratakan. Ini bukan bermaksud tuk mengguri tapi sekedar sharing, jangan sampai kita terlalu terhanyut oleh ritme yang dimainkan oleh si Pelakor dan semoga bermanfaat.

Berikut beberapa hal yang mungkin kamu lakukan baik itu pada saudara dan orang tua.
1. Ketika pertama kali mendengar hadirnya “Pelakor” dalam kehidupan kamu, diamlah sejenak. Walaupun sesungguhnya hati ini mendidih bak hangatnya larva gunung merapi yang siap melutus. Tapi tetap harus ditahan. Tangisanpun tak ada. Dalam hati hanya bisa berdo’a “ ya Allah kuatkan hati dan redahkanlah rasa emosi ini jangan biarkan ibuku tambah terhayut dalam kesedihanya.”
2. Apakah harus langsung marah kepada ayah dan melabrak si pelakor ? .Kamu harus tahu, jika saat itu langsung menanyakan kepada ayah yang ada semua pada emosi syetanpun menari- nari atas keamarahanmu dan rumah pun semakin suram. Tunggulah diwaktu yang tepat. Menata hati dan pikiran harus tetap dingin.
3. Mendiskusikan ini kepada saudara- saudara yang lain, mencari jalan yang terbaik meskipun itu terpahit sekalipun.
4. Mengajak ibu dan saudara jalan- jalan atau sekedar makan keluar menyegarkan otak, hati dan pikiran yang sekarang lagi panas.
5. Bicaralah dari hati ke hati dengan ibu mu, tenangkan pikirannya. Dan katakana padanya bahwa semua akan baik- baik saja. meskipun nanti keputusan akan menyakitka, kamu akan selalu siap disampingnya. Dan jangan terlalu mengkhawatirkan mu serta saudara- saudaramu.
6. Saat waktu itu sudah siap ajak semua anggota keluarga berkumpul, tapi jangan bilang ke Ayah kamu ini ada masalah. Yang ada dia kan menghindar.
7. Bersikaplah tenang, jaga hati dan emosi pastikan jangan ada kata- kata kasar yang keluar dari mulutmu meskipun kamu membencinya sekalipu. Karna bagaimanapun beliau adalah ayahmu, orang tua yang membesarkan dan menafkaimu hingga saat ini.
8. Mulailah tanyakan, kepada ibu dan ayah mu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa demikian dan sebenarnya apa yang diinginkan.
9. Ungkapkan apa perasaanmu saat ini namun Tetap jaga emosi (walaupun saat itu tangisan tak terbendung lagi, tapi saya tetap menahan rasa marah). Kamu tida suka, kamu ingin keluarga ini seperti semula dan apa yang harus kamu lakukan kepada mereka semua, utarakanlah jangan ada yang terlewatkan. Pastikan bicaranya lemah lembut dari hati ke hati. Orang tua mana yang tega merenggut kebahagiaan anaknya karna ulahnya sendiri. Buatlah beliau merasa apa yang ia lakukan itu salah.
10. Beri waktu ayahmu menjelaskan semuanya, tanyakan juga riwayat si “Pelakor”. Tapi ingat tetep kalem, janga menjelek- jelakan namanya. Karna yang ada nanti malah ayahmu menjadi marah. Cukup dengarkan saja.
11. Memberikan pilihan. Jujur walupun ini pahit harus kamu jalani daripada akan menyakitkanmu dan ibumu. Tanyakan kepad ayahmu apakah ingin merubah sikapnya kembali baik semula kepada ibu dan keluarga, serta berusaha menjalin keutuhan keluarga ini kembali atau memang harus berpisah. Sebenarnya anak mana yang mau ibu dan ayahnya tinggal di atap yang berbeda, akan tetapi jika hal ini di diamkan dan berlarut- laru hanya akan menambah luka dan perih di hati masing- masing.
12. Utarakan pada ayahmu apapun yang akan terjadi nanti, jika pisah itu menjadi jalan terbaik sekalipun, kamu tetaplah anaknya dan takakan pernah dendam, hingga tua nantipun kamu siap menjaganya. Berikan juga gambaran pada beliau apakah si “Pelakor” itu siap menjaga ayah hingga akhir hayatnya. Atau dia hanya bisa bermanis- manis karna uang semata dan akan meninggalkan mencari lelaki lain yang lebih bisa dimanfaatkan. Buatlah hati ayahmu tersentuh akan pentingnya keluarga ini bersatu lagi. Jika memang masih bisa di satukan. Dan ingat ini bukan akting, tapi nyata sejahat- jahat apapun ayahmu dia masih punya hati nurani. Apalagi perasaan sayang terhadap anaknya.
13. Tunjukan kamu kuat menjalani hidup, butuh ataupun tidak butuh hadirnya seorang ayah kamu tunjukan kamu harus bahagia jika piliahnya nanti pada si “Pelakor”. Berilah gambaran rencana kedepan apa yang akan kamu jalani bersama ibu dan saudaramu. Dan buatlah sang ayah merasa yang dilakukannya itu salah, dan dia membutuhkan ibu, kamu dan saudara-saudaramu.
14. Berilah kesempatan pada ibumu untuk mengutarakan perasaanya saat ini. Karna ibulah korban secara langsungnya, beliau lah yang merasakan pahitnya, sedih, luka dan pilu hati, karna sesorang telah merampas belahan jiwa dan kebahagian rumah tangganya.
15. Jika pembicaraan semakin emosi dan berlarut- larut, kamu harus bisa mengendalikanya. Karna pasti saat itu suasana baik hati ibu atau ayah kamu lagi tidak baik, jika kamu tidak baik juga akan sulit mendapatkan kata solusi. Dan tegaskan kembali untuk mementukan pilihan. Kamu harus siapa akan semua jawaban- jawaban yang akan diutaraka.

Itulah beberapa hal yang saya lakukan masa itu, jujur saya juga hanya manusia biasa bukan sok suci, sok bijaksana dalam menanggapi masalah ini, tapi ada satu hal yang saya pikirkan matang – matang, setiap perbuatan atau keputusan yang saya akan jalani, jika saya emosi, ibu, ayah dan saudara emosi terus akan dibawa kemana masadepa keluarga saya. Hanya itu yang terlintas dipikiran saya saat itu. Jujur kalau ingin diikutkan hati dan sifat aslinya saya dahulu adalah anak yang sedikit emosional, egois dan suka meleda- ledak dalam menyikapai hal- hal jika itu tak sesuai hati nurani. Tapi berlahan mulai saya merubah dan mengendalikan emosi untuk kehidupan yang lebih baik. Dan dari sini juga saya belajar jadi lebih dewasa dan bijak dalam menanggapi suatu hal, bahwa menyelesaikan masalah tidak harus dengan emosi.

Akhirnya setelah diskusi yang panjang menemukan titik terang kata sepakat dan perjanjian dengan sang ayah bahwa beliau ingin tetap mempertahankan hidup bersama keluarga ini. Apakah ibu dan anak-anaknya menerima begitu saja. tentu tidak. Memang manusia harus salaing memaafkan. Tapi hati sudah terlanjur terluka dan butuh proses buat penyembuhanya. Apakah beliau tulus atau tidak saat itu, tapi saya harus berfikir positif, karna semoga itu menjadi do’a. 

Untuk meyakinkan sang ibu bahwa ayah akan berubah itu tidak mudah, kamu berusahaa tetap menjaga keuutuhan keluarga ini dan kamu juga harus tekanankan bahwa perubahan ayah itu benar- benar tulus. Saat itu sebagai anak-anaknya kami Minta ayah untuk meminta maaf dengan tulus kepada ibu, walupun seburuk- buruk apapun nanti penerimaan. dan meminta ayah untuk mematahkan no kartu handphonenya, agar tidak akan menghubungi ataupun bertemu lagi kepada si “Pelakor”. Ini bukan ancaman tapi keputusan, jika dia melakukan hal yang sama, kita tidak ada musyawarah lagi dan langsung saja pisah. Jujur sebenarnya kata- kata ini begitu menyayat hati. Tapi kami harus tega dan tegar jika itupun terjadi. Kara bagaimapun jika itu dipaksakan kasihan ibu akan menanggung kesedihanya yang semakin berlarut- larut.

Ketika kata sepakat itu di terima dan dilakukan. Kami sebagai anak hanya bisa pasrah, tulus atau tidak maaf itu kami Cuma bisa berdo’a. semoga keuutuhan keluarga ini kembali bai- baik saja meskipun harus proses yang panjang untuk pemulihanya.
Terus bagaiman dengan si “Pelakor” apa yang saya lakukan pada saat itu. Butuh waktu yang lama juga mengendalikan emosi untuk menghubunginya. Akhirnya saya memberanikan diri. Sebelumnya ibu sudah berpesan bahwa jangan emosi, karena ibu pernah menghubungi kalau dengan emosi dia tidak menerima teleponya. Kamu harus tau si “Pelakor” ini biasanya mencari mangsa hanya untuk kesenangan dan uangnya saja. Jika sudah merasa tak bermanfaat dia bisa saja mencari lelaki lain atau merasa ayahmu kurang kaya, tanpa disuruhpun iya pergi.

Akupun memberikan salam yang santun mengawali pembicaraan kami ditelepon, dia tidak tau sebelumnya aku siapa, setelah aku tanyakan kenalkah dengan nama itu dan dia mengiyakan, dengan tenang aku berbicara “ saya tidak akan marah- marah atau emosi kepada anda, tapi saya disni hanya ingin konfirmasi penjelasan saja bahwa saya adalah anak dari bapak itu dan tolong jangan di tutup kita perlu berbicara”. saya tau si “Pelakor” tidak akan mudah begitu saja melepaskan jeratan mangsanya. Tapi saya punya cara tersendiri untuk membuat dia berfikir panjang jika masih ingin bersama ayah saya. Sebelumnya kamu harus siapkan telinga yang lebar dan harus tetap dingin. Karna dia akan menceritakan banyak hal kebaikan ayahmu padanya dan itu membuatmu sakit. Pastikan kamu tetap kalem dan elegan tunjukan bahwa tutur katamu itu mencermikan keluargamu yang baik dan bicarakan lah ini dari hati ke hati sesama wanita.

“ saya tahu anda memiliki hubungan dengan ayah saya, saya tidak akan marah, tapi anda harus tau bahwa mencuri barang saja itu ada hukuman pidananya bukan, apalagi mencuri kebahagian seluruh keluarga bukan hukuman di dunia tapi hukum Allah. Saya tidak tau disini siapa yang dulu memulai, dan orang yang anada kenal memiliki istri dan anak- anak keluarga yang bahagia sebelumnya. Istrinya masih sehat, jantik dan insyallah soleha. anda orang muslim bukan dan pasti tau bahwa ini adalah perbuatan dosa dan mendekati zina”.Dia pun hanya mendengarkan dan sesekali agak membantah, dan pastinya dia akan membicarakan bahwa ayahmu menjelek-jelekan keluarganya. Benar atau tidaknya ayahmu demikan, itu trik si “Pelakor” untuk mengadu domba keluarga. Jika kamu emosi kamu akan masuk dalam permainanya. Saya menceritakan tentang ayah saya dan mampuhkan nanti dia menerima dan menjaganya karna usianya pun sudah tua dan sering sakit. Dan saya jelaskan juga bahwa walupun jika ayah saya memilihnya kami takkan khawatir semua anaknya sudah bisa membiaya hidup baik diri sendiri ataupun keluaraga. Dan juga saya ingatkan sama dia, bahwa dia masih sangat muda, mungkin anda cantiik, masih banyak diluar sana duda ataupun single, lebih baik memilih mereka, ketimbang ayah saya yang sudah tua dan sering sakit-sakitan ini. Ibu sayalah yang sabar dengan keadaan ayah saya. Jika dia bisa sanggup mengambil alih semuanya, silahkan. Dan kami ikhlas. Lebih baik demikian daripada diam- diam dan ibu saya yang tersakiti. Buatlah dia berfikir panjang jika masih mau menjadi “Pelakor”. 

Dan akhirnya saya dengan tegas memintanya jangan pernah menghubungi ayah saya lagi, menceritakan kembali bahwa ayah saya sudah berjanji akan berubah mengembalikan keuutuhan keluarganya. Dia hanya terdiam. Dan jikapun nanti dia yang menghubungi lagi, berarti dialah yang salah, masih mau mencoba menyusup masuk di keluarga orang. Dan buat lah dia berfikir yang sama jika dia ada di posisi jika suami yang direbut. Memang tak mudah. Bisa jadi si “Pelakor” ini sebelumnya adalah korban dari “Pelakor” juga dan sekarang membalas dendam. Apaun itu sebelum menutup pembicaraan saya berterimakasih karna hal ini membuat kami anak- anaknya tambah dewasa, persaudaraan kami tambah kompak dan keluarga kami lebih semangat membangun kembali keluarga yang bahagia.

Sebenarnya perlu atau tidak menghubungi si “Pelakor” saya awalnya tidak mau, karna sebenarnya saya cukup berusaha fokus pada keluarga, toh tidak akan mendengar bunyi jika tepuknya hanya sebelah tangan bukan. Saya beranggapan demikian. Karna terjadinya perselingkuhan, terjadinya peluang si “Pelakor” ini menyusup di keluarga kita mungkin ada satu hal yang harus dibenahi dari keluarga, dan beri perhatian dan pengertian pada si ayah. Mungkin ada yang beranggapan, “kamu sih ngomongnya gampang” . tentu tidak perlu proses yang panjang untuk ini semua dan juga tindakan yang nyata dari anak- anaknya. Jangan biarkan ayahmu diberikan peluang mencari perhatian kepada yang lain apalagi terjerat pada si “ pelakor”. Ini bukan hanya tugas sang ibu tapi anak- anak juga harus berperan demi terciptanya kembali keluarga yang utuh.

"Balas dendam yang positif adalah bukan dengan cara membalas perbuatan jahatnya kepada kita, tapi buatlah mereka yang melakukanya itu merasa bener- benar bersalah hingga meminta maaf dan menunjukannya kembali jalan yang benar."

#Day16
#30DWCjilid10 
#Squad1