Sabtu, 23 Desember 2017

Takdir Kita Di Dunia Relawan Part#1




Takdir Kita Ada Di Dunia Relawan
Part#1

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa laki- laki yang ada di sampingku saat ini menjadi kekasih halalku. Jangankan tuk membayangkan, memimpikannya saja  aku tak pernah. Tak sempat terlintas dibenakku menjerumuskan diri ini ke dunia relawan  untuk mencari jodoh, tujuanku hanya satu berbagi kebahagian untuk sesama. Memutuskan untuk menjadi  relawan satu hal yang membuat duniaku lebih berwarna, ada banyak cerita disini. Dipertemukan dengan orang- orang baru yang akhirnya menjadi saudara seperjuanganku, kita bersama-sama berusaha tuk membahagiakan umat.

Namaku Hasna Nadia, asal dari Cilegon, seorang guru paud yang gajinya saat itu hanya 200.000 per-bulan. Selain itu aku juga mengajar di salah satu SD dengan gaji 500.000 per bulanya. Tak puas dengan hal itu aku ingin seperti teman- teman yang lainnya, kuliah tuk mencapai impian-impian mereka. Jalan itu tak mudah, karena aku dari keluarga yang tak berada, jangankan untuk membiayai aku kuliah, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari- hari ibu dan ayah harus bekerja keras menjadi petani yang tak mempunyai lahan. 

Namun tekatku saat itu begitu kuat, aku ingin mencapai impianku sebagai guru dan ingin merubah kehidupan keluarga lebih baik. aku tau saat ini memang aku seorang guru, tapi hanya guru bantu, ilmuku tak banyak, di zaman serba canggih apalah arti seorang yang hanya lulusan SMA. Aku ingin menjadi guru yang seutuhnya, memiliki banyak ilmu dan mempunyai moral yang santun untuk mendidik muridku kelak. 

Setelah diskusi yang panjang, merayu pada ibu akhirnya aku kuliah, tapi hal ini tak semudah yang dibayangkan, aku harus tertatih- tatih membayar biaya kuliah dan sempat beberapa kali menunggak. Sempat berputus asa, tapi aku termenung kembali, perjuangku untuk memutuskan kuliah saja sudah berat, tak mungkin aku selesaikan hanya sampai disini saja. aku mulai mencari pekerjaan, tapi ada satu lagi kendalanya, ibu tak mengizinkanku kerja diluar dari kota, banyak hal-hal yang dikhawatirkanya jika anak perempuanya bekerja dan hidup di kota orang. Aku tak kehabisa akal, aku selalu merayu pada ibu dan tak lupa selalu libatkan Allah setiap langkahku, semoga langkah ini dan keputusan ini benar- benar dariNya serta di restui oleh ibu. Alhamdulillah setelah bicara dari hati ke hati ibu dan ayah mengizinkanku dengan deretan syarat- syarat yang panjang. Saat itu sepertinya semesta begitu menyertaiku tak beberapa lama aku mendapatkan pekerjan sebagai penanggung jawab Rumah Giat merupakan program pedidikan yang di sponsori oleh salah satu Departement store ternama.

Dan mulai saat itulah untuk pertama kalinya aku menjadi anak rantau di kota orang, kota Bekasi. Kebetulan kampus pusat ditempat aku kuliah tak jauh dari kota ini. Namun dikarenakan jalanan yang selalu macet hampir 3 jam perjalanan untuk sampai ke kampus. Tak jarang aku tertidur didalam angkot, ketika bangun perjalanan masih panjang dan tertidur lagi. Memulai hidup yang baru, rumah baru, lingkungan baru, harus kujalani. Bersyukur lingkungan tempat aku tinggal itu sangat mendukung program yang sedang aku jalanani. Terkadang ada cerita sedih tapi akan menjadi lucu jika diingat kembali, aku sering salah naik angkot atau kebablasan hingga sampai tempat yang tak aku ketahui. Itu lah resiko pertama yang aku alami menjadi anak rantauan, tapi dari sana aku belajar banyak hal. Belajar menjadi mandiri, lebih disiplin, lebih sabar dan banyak mengetahui tempat- tempat dibelahan bumi ini yang sebelumnya aku tak tahu.

Di kota ini lah takdir kami dipertemukan. Di dunia relawan dimana tempat aku menjerumuskan diri untuk hal- hal kebaikan. Di kota ini pun sama aku ikut bergabung, karena pergerakan kerelawanan ini tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Sunggu tak pernah aku membayangkan jika takdir kekasih halalku bersama dia. Dia, bang Riyo aku memanggilnya, sosok yang berpenampilam anak gunung, gaul dan agak bebas. Pertama kali aku melihatnya di agenda tahunan, pelatihan pendidikan dasar untuk relawan baru. Dia baru bergabung saat itu. Belum ada tegur dan sapa. Dan sampai suatu hari kami menjadi tim yang sama untuk membantu relawan Tangerang yang saat itu ada bencana banjir. Saat disana akulah yang sering memarahinya, membangunkan sholat subuh, disaat orang lain ke masjid dia masih tertidur. Pernah satu ketika saat dia tidur di kursi, aku bangunkan dengan suara yang keras, namun tetap tak bisa bangun, akhirnya ku pukul kursinya agar dia cepat bangun, namun cara itu tetap tak berhasil dia bangun sebentar hanya berpindah tempat dan tidur kembali.

Setelah beberapa hari kami dalam tim yang sama di tenda pengunsian banyak cerita yang baru aku ketahui, ada sisi kelam di balik dirinya. Jangankan untuk sholat lima waktu, sholat dalam satu tahun mungkin bisa dihitung, bahkan bisajadi setahun sekali saat hari raya. Namun di balik itu semua dia memiliki kepribadian yang baik, suka membantu teman dalam kesusahan. 

Seringnya pertemuan kerelawanan membuat kami makin sering bertemu dalam beberapa kegiatan yang sama. Dia sering membatuku di program Rumah Giat, dan teman- teman yang lainpun juga begitu. Sebagai anak perantauan aku merasa bahagia di dunia relawan ini di pertemukan dengan saudara- saudara yang baik dan ada beberapa juga relawan yang nasibnya sama sepertiku sebagai anak perantauan tak jarang apa yang kita alami kadang sama, sering salah angkot atau tersesat di jalan.

Bang Riyo sosok orang yang baik, dia tak pernah pandang orang itu siapa untuk dibantu, termasuk aku. Entah mengapa terkadang itu bukan pintaku tapi takdirlah yang mempertemukannya, disaat aku sedang perlu pertolongan, dia hadir disana. Aku tau ini bukan kebetulan, mungkin ini sudah jalanNya Allah yang telah tertulis disana. Tapi saat itu sama sekali belum ada perasaan apa- apa terhadapnya, karena aku pikir dia relawan, kita semua saudara, pastinya semua baik. Semakin sering bang Riyo ikut kegiatan relawan, Nampak beberapa perubahan yang lebih baik dari dirinya. Sudah mulai ingin sholat walau masih tertatih dan ikut kajian belajar tentang Islam. 

Aku menjalani aktivitas yang sangat padat, selain kuliah aku juga punya amanah menjalankan program pendidikan di Rumah Giat. Ini lah saatnya, aku mulai mengerjakan skripsi, jalanya tetap sama, masih banyak ujian yang harus aku dilewati, naik angkot hingga beberapa kali dalam waktu 3 jam baru sampai ke kampus, uang semakin pas- pasan. Karena biaya semakin besar. Tapi aku harus kuat, aku harus mencapai impianku, membawa kembanggan untuk keluarga dan tak mau membuat orang tua kecewa yang telah memberikan izin padaku hingga seperti saat ini.

Pernah suatu ketika aku harus bimbingan skripsi bersama Dosen,  diwaktu yang hampir bersamaan aku sedang mengajar di Rumah Giat, kegiatan ini baru akan selesai pukul 12.00, sedangkan aku harus datang pukul 14.00 untuk bimbingan. Aku bingung dan termangu sejenak, bagaimana bisa sampai ke kampus dengan waktu secepat itu. Aku hanya berserah diri pada Allah dan minta pertolongan diberikan solusinya . Dan tak terduga……

*** Bersambung ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar